Welcome to Enchephelon, this is my central nervous system

Senin, 29 November 2010

Postingan Setengah Melek

Ini jam satu lebih enam menit dan saya belum sedikitpun sempat memejamkan mata dari semalam. Jadi, mumpung bisa, sebaiknya saya buru-buru memulai menulis topik yang masih anget-angetnya muncul di dunia sana, dunia nyata.

***

POLITIK
Empat atau lima tahun lalu Menteri Keuangan mulai membuat sebuah sistem baru dalam rangka memperbaharui sistem kerja yang lama di lingkungan pelayanan publik. Sistem inilah yang dikenal dengan reformasi birokrasi. Jangan pernah bertanya bagaimana jalannya birokrasi pelayanan publik pada akhir tahun sembilan puluhan karena jawabannya tidak pernah terdengar menyenangkan. Dengan sistem reformasi birokrasi, Menteri Keuangan berharap banyak untuk meningkatkan taraf pelayanan para birokratnya, dan sebagai 'kelinci percobaan' dan sekaligus 'role model' maka Menteri memilih kementeriannya sendiri sebagai instansi pertama yang menerapkan sistem reformasi birokrasi, Kementerian Keuangan.
Pada dasarnya, tujuan mulia dari sistem ini adalah memberantas praktik korupsi yang telah melegenda. Untuk itulah berbagai sub-sistem dibentuk, mulai dari remunerasi -peningkatan gaji dan tunjangan; sistem pengawasan terpadu yang lebih efektif; hingga pemecatan di sana-sini. Dan begitulah adanya, sebaik-baiknya tujuan dari dibuatnya suatu solusi, masih lebih kalah baik dari pandangan subjektif media massa. Kata pepatah: jatuh nila setitik, rusak susu sebelanga.
Beberapa tahun yang lalu kejadian demi kejadian beriringan dan berkesinambungan dimulai, berawal dari krisis Global melanda dunia, tindakan preventif di bidang perbankan oleh Menteri Keuangan yang menyebabkan dimulainya babak baru perang urat syaraf antara kepentingan para politisi featuring media massa melawan pemerintah; upaya pemakzulan kepala negara; perang dingin kadal vs godzilla; pencoretan beberapa nama aparat; kriminalisasi ketua penegak hukum baik-baik; upaya pelengseran Menteri Keuangan terbaik dunia melalui sistem politis; tindakan frontal para barisan sakit hati; terbukanya rahasia makelar kasus; hingga terakhir santer disorot adalah adanya lulusan STAN yang menjadi tersangka kasus makelar pajak. Media berperan besar di sini sebagai alat propaganda dengan 'ilmu menyambung-nyambungkan' sehingga memecah belah simpati masyarakat awam kepada pemerintah. Ya, medianya sendiri, yang dimiliki oleh politisi itu sendiri, belakangan kita tahu terkena karmanya lewat kasus wawancara makelar kasus Palsu.
Ah, saya tidak akan berkomentar lebih banyak tentang kasus demi kasus yang terjadi itu. Saya hanya menyayangkan dan terus menyayangkan saja mengingat peran media akhir-akhir ini justru terlalu memojokkan masyarakat seakan dipaksa mengkonsumsi asupan subjektif yang terlalu sempit sudut pandangnya. Sudah banyak bukti bahwa masyarakat mulai teracuni. Tengoklah facebook. Di sana anda akan menjumpai beratus-ratus group dengan tema yang sama: Gerakan satu juta facebookers bla bla bla. Omong kosong semuanya!

***

FACEBOOK
Masih mengenai group di facebook, saya kebetulan menemui sebuah group bernama Tolak Penghapusan Remunerasi bla bla.
Entahlah, saya hanya kurang sreg dengan wallpost yang banyak diposting oleh anggota group tersebut juga dengan deskripsi dan latar belakang dibuat group tersebut. Di sana banyak tertulis bahwa 'Penghapusan Remunerasi hanya akan menyebabkan korupsi semakin besar kembali' atau 'Tolak Penghapusan Remunerasi agar kinerja tidak menurun.'
Sekali lagi, entahlah, di otak saya -yang cetek ini- saya rasa nggak ada soal apa mau remunerasi atau tidak kinerja harus tetap baik, berhenti praktik korupsi jangan kambuh-kambuhan. Memang sih saya nggak tau persis gimana dunia kerja sesungguhnya. Saya ini apa? Cuma anak SMA yang ilmu baru setengah setengah yang terlalu bersemangat dan tidak realistis. Oh ya memang. Tapi kalau saya fikir 'kalau gaji turun lalu korupsi berkembang dan kinerja menurun berarti yang salah bukan gajinya tapi orangnya', apa saya salah?
Ah, mungkin, sekali lagi, saya tidak realistis saja. Terlalu idealis. Minoritas. Terserahlah!

***

GOSSIP
Dan begitulah masih segar di ingatan ketika Tiba-tiba vokalis sebuah grup band ternama mengadakan sebuah acara pengakuan di seluruh stasiun tivi swasta yang menayangkan acara gossip siang lalu sekonyong-konyong dengan cengengesan dan wajah dibuat sok merasa lega dia mengaku dengan bangga dan bersemangat bahwa dia saat dalam keadaaan mabuk telah membuat bunting seorang perempuan pemakai narkoba yang kemudian melahirkan seorang bayi.
Yeah, bukankah dia adalah sosok artis yang bertanggung jawab, sodara-sodara? Jadi tunggu apa lagi, tirulah sikapnya. Berzinalah dengan seorang yang mau diajak berzina, lalu beberapa saat kemudian saat bayi hasil perzinahan itu telah lahir, buatlah semacam konferensi pers kecil-kecilan, dan mengakulah anda telah melakukan perzinahan secara suka sama suka dalam pengaruh minuman keras. Dan yak, selamat anda berhasil menjadi fans yang baik dan tenanglah, tidak akan ada yang merajam anda sampai mati seperti sebagaimana seharusnya.

***

TWITTER
Mengutip isi tweet Pandji Pragiwaksono, saya menemukan sebuah pemikiran yang inspiratif dan positif. Intinya adalah, 'Jernihkan pikiran anda semua, mari mulai mencintai negeri ini. Jangan malu memiliki negeri dengan sejuta hal yang patut dibanggakan ini.' Mari mulai bekerja secara positif dimulai dari kita sendiri. Yang mahasiswa, jangan sering demo menuntut pejabat korupsi dicopot kalau nyatanya masih suka terlambat datang kuliah. Yang karyawan, jangan suka menyindir Undang-undang segala macem kalau ternyata sendirinya masih suka nerobos lampu merah. Yang bakul beras, pedagang kecil-kecilan, nggak usahlah suka berisik di warung kopi soal pegawai pajak makan uang rakyat kalau sampeyan masih nakalin timbangan saat berjualan. Dan yang nulis tulisan ini, mungkin sebaiknya melakukan terlebih dahulu semua yang dituntutkan kepada pembacanya.


**ngulet lalu tidur**

Sabtu, 27 November 2010


Currently missing one of my best friends.
we were a good friend.
we met each other every day.
Sleep and Play together.

but suddenly,

something strange happened.
until today i don't even know what was really happened.

all i know now is

my best friend is gone.


*Gamael, I Miss You :'( A lot....




Kamis, 11 November 2010

Blurred..

saya bukan menyerah, saya hanya berhenti berusaha. Saya akan berhenti memaksakan diri. Bahwa tubuh saya sudah tidak kuat lagi menyangga keinginan saya.

Saya tahu, itulah saatnya saya harus berhenti.

Kamis, 04 November 2010

Terlalu Singkat


bagiku malam ini hujan turun terlalu sebentar.
seperti sekejap mata saja. ini tidak berhubungan langsung dengan obsesi, hanya soal rindu bertautan dengan udara lembab sejuk yang dibawanya turun membasahi tanah yang sepenuh mati mendamba rintiknya.
dan sungguh sangat memukau bagaimana aroma kerinduan tanah pupus perlahan disibakan tirai air rapat itu.
begitu pelan dan membungkam.
aku iri pada tanah, aroma rindu yang terselesaikan adalah akhir dari debunya yang belakangan sering mengepul bersama pijakan kakiku disiang hari. maka yang tersisa wangi kasih semata di permukaannya, dilepasnya hujan dengan tanpa berhenti memeluk sisa genangan air yang dia tinggalkan.


aku iri pada tanah itu, yang telah mampu melepas segala amburadul rindunya pada tetes air yang akhir-akhir ini mengunjunginya dengan tempo waktu yang nyaris sama. malam gerah, setiap hari, pada jam yang berdekatan.



aku iri pada tanah itu, yang mampu menyimpan rindunya dengan sedemikian baik di musim kemarau. menguatkan diri sebanyak hitungan waktu yang dilaluinya dengan sabar, dengan diam, dengan bertahan tanpa mengirimkan isyarat rindu.



kalau saja aku bisa menyimpan rinduku sedemikian rapat seperti tanah. maka pecahan kata ini tidak akan pernah sampai terbaca.

oleh kamu.

dan kepada kamu... rindu itu diakhirkan, diperuntukkan.

Jumat, 29 Oktober 2010

3 hari Bedrest....


Ya , sudah dari hari Kamis saya bedrest. absen dari segala aktivitas padat, walaupun awalnya saya sudah memiliki tekad bulat buat tetap menjalankan aktivitas seperti biasa disaat tubuh lagi ngambek, tapi tetep aja, rupanya pengaruh orangtua lebih besar dihidup saya.
3 hari ngapain aja? heh.. kaya jadi kambing congek yang mo ngelahirin, ga ngapa-ngapain >,< rasanya paru paru, jantung, usus, hati, lambung dan semua organ tubuh saya berteriak "Rasain, belagu sih, dasar bodoh" Harusnya saya tahu tidak memaksakan kondisi dan ability untuk mencapai obsesi dan ambisi saya. 3 Hari bedrest cukup membuat orangtua saya panik, Entah kenapa setalah kejadian yang menimpa saya 2 tahun lalu membuat mereka jadi gampang panik dengan kondisi saya. Saat saya disekolah, mereka selalu texting saya untuk sekedar mengingatkan apa saya sudah makan dan bukan makan makanan yang aneh aneh ( tau sendiri, makanan di sekolah seperti apa. Ma,Pa. helda tidak suka makanan seperti itu )
Lucunya kepanikan itu tidak mendera orangtua saya saja, tapi juga sahabat, teman, keluarga, bahkan guru saya. sahabat saya akan amat panik kalau saya terlihat pucat, panas, atau keringetan. Mungkin kulit saya yang sedikit terang yang membuat dia salah paham dan menganggap itu pucat. Guru saya akan panik ketika saya sering ke UKS, dan meminjam minyak kayuputih. Padahal Saya hanya menggunakannya untuk menghilangkan gatal dikulit saya karena gigitan semut.
3 Hari bedrest ini, saya jadi sering mendengar " I'Ve told You Hel... " dari mulut orangtua saya. hanya saja kata kata dibelakangnya berbeda beda. seperti, jangan kecapean, jangan telat makan, jangan tidur malem malem, jangan banyak tingkah dll.. Iya ma pa,, helda tau. helda salah, helda cuma jenuh aja ma, helda cape. gimana bisa disaat semua tetap sama, sedangkan hanya helda saja yang berubah?, gimana bisa semua berubah begitu cepat? .
Ok, Next Topic.
Kemarin saya menerima Rapor, Ini suatu kelegaan buat saya karena papa yang mengambil rapor saya. Bukan mama. Mengambil rapor ala Papa, adalah datang kesekolah, bertemu wali kelas, basa basi sebentar, lalu pulang. membaca rapor saya dirumah, dan memuji saya, tidak peduli ada berapa nilai 7 disana. :)
beda dengan mama. Menerima rapor ala mama adalah berjam jam dihabiskan untuk membicarakan saya didepan walikelas. Mama akan membuka rapor saya didepan walikelas saya, membaca satu persatu nilai nilai disana, sambil menanyakan pertanyaan yang amat-sangat-tidakpenting-sekali. seperti " Apa helda suka usil disekolah? " Yang akan di iyakan dengan guru saya " iya bu, helda itu jail, usil tidak bisa diem blablablabla " Tipe pertanyaan lainnya adalah "Apa helda suka nakal? " Yang bukan hanya dijawab tapi juga di tunjukkan kartu pelanggaran saya, seperti dengan pedenya saya memakai seragam hitam di hari senin yang seharusnya berseragam putih putih, atau memakai baju biru di saat harusnya memakai baju pramuka :) bayangkan bagaimana mencolok nya saya, mungkin karena itu saya sangat dikenal disekolah, bahkan saya sering menemui adik kelas yang sok kenal, bahkan ada beberapa teman yang ngiri, ketika jalan dengan saya di sekitar sekolah, dan banyak sekali yang sekedar menyapa, padahal tidak satupun yang saya kenal. Bukannya saya lupa dengan aturan jadwal seragam disekolah, saya cuma ingin beda, kenapa? karena saya bosan terlihat sama, dan alasan lainnya adalah melawan aturan terkadang sangat menyenangkan :) ( yang ini jangan ditiru, big no no... ) Kemudian mama saya pasti nanya apa saya suka ngomong di kelas, suka mengkritik , ( padahal ini sudah jelas, dari mana saya mempunyai bakat cerewet ) yang kemudian akan langsung di iyakan lagi dengan guru saya " Iya bu, helda itu suka nyeletuk blablablabla"

Please deh ma.. pertanyaan pertanyaan ini tetap sama dari mulai awal saya sekolah, dari mulai saa TK. Udah tau kan, kenapa saya selalu worried kalau mama yang ambil rapor.
Saya bahagia dengan rapor saya. ada empat nilai 10. Iya, 10 di rapor... empat lagi... :) biasanya cuma 1 atau 2, itupun jarang. dan yang lainnya 9 dan 8 ada sih yang 7 :( tapi mata pelajaran tertentu saja, yang emang sama sekali tidak saya suka. Ternyata tidak sia sia saya mati matian belajar. :)
-Ok, yang ini abaikan :) -
Harusnya, banyak yang bisa saya lakukan selama 3 hari bedrest ini, saya sudah membuang 3x24 Jam saya :( saya bisa setidaknya menulis meneruskan cerita yang saya tulis yang sekarang sepertinya sudah mulai berlumut di harddisk, saya memang ingin menerbitkan, tapi bukan itu tujuan saya menulis dan menyelesaikannya, hanya karena beberapa orang yang curang dengan alibi meminjam lappie saya untuk sesuatu yang amat-sangat penting diam diam membaca tulisan itu memaksa saya untuk menyelesaikannya :), saya memang ingin melihat tulisan saya di rak rak toko buku, tapi lagi lagi saya berfikir, saya tidak mau menodai hal hal yang saya suka menjadi keharusan karena menggantungkannya sebagai profesi.
Saya tidak pernah akan menjadikan menulis sebagai profesi. Kalaupun buku saya diterbitkan saya tidak akan menuliskan nama saya sebagai penulis ( ini sudah saya terapkan di Mini book saya, tidak harus ada yang tahu siapa penulisnya :) ) Kalau bisa biar tempat nama penulis biasa ada saya kosongi dan bisa dituliskan nama siapapun disana, mungkin yang membaca buku saya bisa menuliskan namanya disana. Terserah, saya bahkan tidak keberatan ketika tulisan saya di copy dan di akui oleh orang lain, menurut saya itu tidak penting, bukannya yang penting adalah perasaan kita ketika menulis. Ya kan ?
3 Hari bedrest ini, harusnya saya sudah bisa merombak kembali blog saya. ya saya mau mengganti dekorasi nya, tapi tidak tahu mengapa, masih males :P banyak yang protes dengan latarnya yang hitam. katanya ngerusak mata . Apa iya ? :) trus diganti apa dong ?
sudah dulu ya..
Oya satu lagi...
mungkin alasan Saya menulis hanya karena suatu saat nanti ketika saat saya tiada, saya bisa meninggalkan sesuatu, meninggalkan jejak, dan membuktikan bahwa saya pernah ada, didunia ini, walaupun cuma sejenak.

di posting ini Saya melampirkan pic, buka hitam putih seperti biasanya. :) untuk menggambarkan rindu saya pada biru dan asinnya air laut. Mungkin, saya akan kembali menjadwalkan untuk mendatanginya lagi, dalam waktu dekat.

Happy WeekEnd.
-Hibernate-

Rabu, 27 Oktober 2010

Tunggu Ya..


Terlepas dari entah kamu apakan semua surat yang kualamatkan kepadamu, ternyata aku sudah melepas harapan menerima balasan yang datang bertuliskan namamu, bahkan menerima pengembalian surat-suratku.. paling tidak itu tandanya kamu pernah membacanya, bukankah aku bisa tahu dari bentuk amplop itu? Apakah masih amplop yang kukirimkan, atau kamu sudah menggantinya? Ataukah masih dalam keadaan licin bersih, pertanda kamu belum membuka atau membaca. Alangkah sedihnya jika begitu.

Ataukah ini salahku yang tidak juga mampu menuliskan alamat darimana seharusnya surat-surat itu berasal? Yang selalu menyemarakkah harimu di hari senin yang pekat, yang kamu tidak suka itu.

Tidak ada yang cukup istimewa dengan perjumpaan, jadi aku tidak bisa menceritakan apa-apa padamu akan keindahannya. Perjumpaan kita, wanitaku.... hanyalah suatu awal dari lembaran kisah semu ini. Saat aku menerawang menangkap biru langit dari sebuah balkon di suatu tempat, dan kamu yang memaku pandanganku untuk tetap dalam sosokmu. Kamu disana, di bangku beton... dan bukan karena kecantikanmu yang memukau saat itu, wanitaku.. kamu tengah membelakangiku saat itu, aku cuma bisa melihat bidang punggungmu. Aku hanya merasa tengah melihat keindahan yang rapuh. Kamu ada disana, dan aku bisa melihat lembaran bulu sayap tak kasat matamu berjatuhan, dan sayap kirimu melengkung bengkok.. patahkah?

Untuk kemudian aku tersadar ingin membenarkannya, memasangnya ke tempat semula. Tapi rasa takut ini nyata, setiap kali aku dengar kamu bilang "jangan....," pada setiap mulut yang menawarkan untuk membenarkan sayap itu untukmu. "tidak..," katamu dan kamu lantas menepisi tangan-tangan itu, yang memaksa dengan penasaran pada sayapmu akankah bisa jadi kuat lagi dengan usaha mereka?

Baik-baik sajakah kamu, wanitaku? Mengapa selalu sembunyi dari ramai dan dalam sedihmu? Mengapa rasa percayamu terkikis sebanyak itu? Waktu terus berjalan, wanitaku... izinkan aku meniupi tiap duka dari pikiranmu lewat embun yang kamu hirup waktu dini hari, izinkan kukirimkan angin untuk menerbangkan lelehan air matamu yang aku tidak bisa hapuskan.

Sementara aku adalah lelaki yang juga tak sepantas itu untukmu, aku peragu. Ragu untuk memberitahumu yang bahkan tidak tahu bahwa aku bukan hanya hembusan karbondioksida. Tapi aku akan ada, dan dengan banyak cara aku ada.. mencoba mewarnai harimu dengan crayonku. Mungkin cuma segaris dua garis, tapi percaya saja.. aku cukup bergembira mampu menghadirkan tawamu. Semoga aku tidak salah waktu.

Kamu duduk di bangku beton itu lagi disuatu sore yang biru (atau aku yang tak mampu meraihmu maka merasa biru?), kamu menulisi sesuatu.. entah apa dan kukirimkan padamu wajah polos lugu itu, menyerahkan permen loli padamu. Warna merah, semerah pipimu yang dicumbu surya. Aku lihat kamu tertawa mendengar makhluk polos itu berkata, "ini untuk kakak.. diterima yaa.. dari seorang malaikat berhati baik," Ah polosnya, padahal benar.. aku tidak mengajarinya kata-kata itu. Aku hanya memberinya coklat sembari meminta tolong pada makhluk manis itu untuk memberikan permen itu padamu.

Aku juga melihat kamu celingukan, padahal ada aku disana.. menatapimu dalam jarak dekat.. berhasil mengintip pecahan hatimu di tiap lembar yang kamu tuliskan. Menurutmu sejatinya semua wanita itu sama, terlalu teracuni dengan cerita negeri dongeng.. Saat cuma ingin jadi putri, berbaju indah dan sengsara lantas menemukan pangerannya yang akan mengajak dia berdansa atau memainkan biola atau menyanyikan lagu atau membacakan puisi untuk dia, kemudian di akhir cerita dia akan menemukan happy endingnya sebagai seorang putri yang bahagia.

Tapi kamu tidak, kamu yang ternyata juga ingin happy ending tidak butuh pangeran.. kamu hanya butuh seseorang yang berlembut hati dan cukup waktu untuk merasa membuatmu dimengerti, seseorang yang bersamanya kamu tahu bahkan ketika dunia pergi dia akan tetap bersedia ada disebelahmu dan meyakinkanmu : jangan sedih, aku ada disini bersamamu. Seseorang yang tidak banyak berkata tapi merangkai jutaan hal-hal sederhana yang indah untukmu, kamu hanya butuh dicintai tanpa syarat, sejenis cinta yang mengikat tanpa membelenggu, kamu hanya butuh ingin jatuh cinta tanpa berusaha dan tanpa harus merasa perlu memaksa dirimu.. karena bukankah begitu seharusnya cinta? dia hanya perlu mengalir, mengisi penuh hati-hati yang kosong dengan hadirnya bukannya dialirkan melalui pipa-pipa raksasa. Dengan kehadiran tak wajarnya, bukankah hanya akan membuat bendungan hatimu runtuh?

Kamu tertawa saat itu, di depan mataku yang mengamatimu kendati kamu tidak tahu, dan di depan makhluk mungil menggemaskan di depanmu. "Iya.. aku tidak butuh pangeran, aku hanya butuh kehadiran malaikat..," katamu dengan tawa kecil membahana. Kamu tahu, kamu hanya berkata pada dirimu, bukannya membisikkan lewat daun-daun gugur ini kepadaku.

Wanitaku, maharani yang bertahta di singasana bangku beton itu sendirian.. saat itu aku merasa sedih, karena aku tahu aku bukan malaikat yang kamu butuhkan. Jadi kugenggam erat keinginan untuk mulai melangkahkan kakiku ke arahmu, aku berhenti, cukup disini. Maafkan aku, ini belum waktunya. Sungguh ini belum waktunya, jika belum waktunya.. bukankah sesuatu hal tidak jadi indah? Layaknya kuntum mawar yang sudah dicabut sebelum dia sempat mekar. Meskipun aku masih akan menjatuhkan kuntum bunga mawar untukmu, atau es krim yang diantar penjualnya ke tanganmu, atau boneka kodok yang melompat mengejutkan dari kotaknya yang mampu membuatmu tergelak itu.. aku bukan malaikat, aku hanya aku yang berusaha membuat tawamu tak pernah sirna. Sungguh, aku masih menunggu suatu saat kamu akan berujar bahwa sebenarnya kamu tidak butuh malaikat, kamu hanya butuh aku. Dan jika saat itu akhirnya mampu tiba, ketika kamu akhirnya tahu, ketika kamu mengizinkan dirimu tahu, ya saat itu.. izinkan aku menjadi akhir indah yang kamu selalu nanti.

Lagi Lagi mencoba "menulis" dari sisi Pria :)
Malam Ini Bulan terang, langit tak berkabut, tapi tetap tanpa bintang. Bulan tanpa bintang sama saja bohong. Mama masih Ngomel, gara gara Saya yang bela belain maen Baseball, padahal kemarin habis maen basket habis-habisan. Ga kerasa Sudah 1 jam mama ngomel tentang bandel nya Saya, dan Malesnya Saya minum Obat. "Ma, aku bosan lihat Obat, Aku bosan minum obat. "

Senin, 25 Oktober 2010

Kata maaf yang takkan pernah tersampai..


Tuhan, terima kasih telah mengirim dia untuk saya.
dia yang sempurna dengan segala ketidaksempurnaannya.
dia yang nyata dan saya terlambat menyadari kehadirannya.
Dia yang memaafkan, sementara saya yang kesulitan menjaga hatinya agar tak kembali saya hancurkan.
Saya yang merasa tidak pernah bisa melindungi nya dari luka yang saya toreh.
saya yang berulangkali pergi, dan dia tetap disini, menunggu saya kembali dengan tangisan penyesalan, dan ribuan maaf..

Tuhan, terima kasih atas kesempatan ini.
bersama dia yang mengakuisasi hati, menawan pikiran,
yang selalu menjaga saya dari luka.
yang menopang saya dari sedih.
yang selalu ada ketika saya menangis.
yang selalu mendengarkan ocehan dan omelan saya.
yang selalu datang kemudian menangkap ketika saya jatuh.
Tapi, saya ingat semua milikmu, termasuk dia dan kehadirannya
maka jika menurutMu saya tidak pantas bersama nya, tidak pantas memiliki dia dan adanya, ambillah...
dan semoga dia akan lebih bahagia tanpa saya..
kemudian berikanlah saya rasa ikhlas yang bertambah, rasa sabar yang meluap dan rasa syukur yang penuh.
Untuk menerima keputusanmu.

Ternyata menyakiti lebih sakit daripada disakiti...
Maafkan aku ....
Semoga kamu selalu baik baik saja, walaupun tanpa aku disana.
maafkan aku yang mengingkari janji untuk tidak pernah meninggalkanmu..
Maaf..